Selasa, 25 Juni 2013
Ko???
Huah udah dua hari ini aku terkena influenza. Pokoknya lumayan BT tidutan di kostan terus. tahu tuh ga produktif sama sekali. Udah lama ini temen waktu smk ngontak, biasalah basa basi nanyain kabar. Ya aku reply juga sewajarnya aja. Nah 2 hari terakhir ne dia ngajak ketemu gitu. Wah aku dah bilang ga biza dg berbagai alasan. Beu.....dia ngotot terus. Alhasil daripada dia yang ke kostan ku mending aku z yang ke sana sekalian lewat ke teman yang di uber. Nah ceritanya pas aku nyampe dia udah ada depan kantornya. Kami ketemu n bersalaman. "Kamu sehat?" aku nanya duluan. "Lumayanlah, kanker doank biasa!." "Ke kostan aku yuk,,," "Banyakan orang g di sana?" kataku. "Ya iyalah" "Oke" Aku berjalan di belakang nya sambil terus ngobrol. "Ini kostan aku" katanya. Aku agak terenyuh melihatnya. Hanya ada karpet dan tikar yang tergulung. "Beginilah De hidup di kota, aku terpaksa bertahan karena malu klo harus pulang ke kampung. Mau ditaruh dimana harga diriku!" Aku cuma tersenyum simpul. "Eh itu apa di dinding?" "Bialah penyemangat aku bir rajin kerja" "Owh.Bisa diceritakan sedikit tentang kerjaanmu?" aku penasaran. "OK" dan dia mulai cas cis cus tentang pekerjaannya. Heuheu agak heran juga dia jadi pintar ngomong ga kaya dulu waktu di smk, yang asli suka ngikut apa kata orla doank. Ya....ya....ya...aku mulai memahami pekerjaannya dan terkekeh-kekeh. "Aku pulang ya,,,ga enak badan banget neh,,," "Ko sebentar?ntar we ath,ntar aku anterin" "males ah, beneran neh mau istirahat n tidur" "Ya udah istirahat z di sini" "Ga mau ah."
*** Eh lagi asyik-asyiknya ngelamun di angkot,,,nokia-ku berdering. "Halo, siapa ya? "Hey kamu siapanya ....(temen aku tadi)?" Wah ga bener neh, langsung saja maen semprot... "Kenapa harus ke kostan berdua?" Wah aku diberondong pertanyaan. Aku mengernyitkan kening. "Awas ya klo sekali-kali lagi kamu ketemu ma pacar aku!" dan klik telepon ditutup tanpa memberi kesempatan padaku untuk bicara. ***
![]() |
| Dok. Google |
Senin, 24 Juni 2013
Dingin????
![]() |
| Dok. Google |
Kerinduanku
![]() |
| dok. google |
Candaan kita, berhiaskan tawa
Tangan yang selalu refleks, selalu mengelusmu
Banyak kata dan rasa yang telah kita lewati bersama
Aku meringis, kamu bersorak
![]() |
| dok. google |
Biarkan saja waktu memisahkan
kita
Biarkan saja jarak dan ruang menjadi
pembeda
Kenangan kita,,tetap tak akan
terambil.
Aku benar-benar merindumu,
Kemarin, saat ini dan selamanya.
Impian Gadis Desa
Sejak kecil saya selalu senang kalau diajak main ke tempat
baru. Kemana saja. Mau ke tempat wisata, ke rumah baru teman, dan lain
sebagainya. Pokoknya serasa asyiik banget kalau sudah berkunjung ke tempat
baru. Jadi ada semangat baru, inspirasi baru, dan hal-hal yang baru diketahui
lainnya.
Keluargaku termasuk keluarga yang jarang pergi liburan. Ayah
bilang ngapain, boros-borosin uang aja, lagian ntar sayang pelanggan pada kabur
kalo kita keluar rumah (Ayah saya seorang pedagang). Ibu tidak banyak bicara
kalo Ayah sudah memutuskan sesuatu. Alhasil, dulu saya kalo liburan sekolah dasar
atau liburan hari raya selalu termenung depan rumah menyaksikan lalu-lalang
kendaraan bermotor yang akan pergi ke pantai. Ya, rumah saya dekat pantai,
kurang lebih 20km. Pernah saya merengek,”Pa, ke pantai yukkk,,kan Elin sekarang
lagi liburan sekolah”. Ayah hanya menggelengkan kepalanya dan bilang, “Ngapain
ke sana, mereka yang liburan yang kerja kantoran, yang dari pagi sampe sore
kerja, laah kita mau ngapain, tiap hari bersantai”. Saya hanya bisa bersedih
kala itu, dan Ibu saya yang selalu memberi semangat dan menghiburku, “Nanti
kalau sudah punya suami, mau liburan kemana aja gampang, nanti sama suami akan
berlibur ke tempat yang kamu inginkan”. Sejak saat itulah, saya bertekad, suatu
saat nanti saya ingin pergi berlibur ke tempat baru, keliling Indonesia, dan
kalau bisa ke luar negeri. Ya itulah impian kecil waktu saya SD, bisa keliling
dunia bersama suami tercinta. Terlalu muluk-muluk? Biarin!!!! Mimpi yang selalu
membuat kita selalu bersemangat untuk melakukan apapun untuk mencapai mimpi
itu.
![]() |
| Gambar diambil dari Google |
![]() |
| Gambar diambil dari Google |
kemarin, setelah lulus kuliah, saya iseng-iseng mencoba melamar ke Bank *********,
setelah melewati beberapa test dan wawancara, akhirnya diterima. Tetapi ketika
mau tandatangan kontrak saya ko jadi berfikir kembali, tiap hari pergi pagi
pulang malam, bagaimana dengan suami saya. kebayang saya berangkat pagi, suami
masih tidur, dan ketika suami pulang, gantian saya yang sudah tidur karena
kecapean. Jadi, dimana ketemunya? Memanfaatkan hari Sabtu Minggu? Saya rasa itu
tidak akan cukup. Apalagi ada keharusan, menunda dulu kehamilan, Whattttt????
Saya yang pernah kehilangan anak, tentu saja, saya ingin cepat hamil lagi,
untuk menghapus rasa kehilangan itu. Hingga akhirnya saya pun menutup impian
menjadi bankir itu.
Lalu ini?
(Gambar diambil dari Google)
Ketika kuliah tingkat dua, impian profesi saya berubah lagi,
ingin jadi seorang guru. Padahal jurusan kuliah saya teknik, sangat bertolak
belakang dengan keguruan. Ini saya rasakan setelah menikah. Sepertinya profesi
guru fleksibel bagi wanita yang sudah menikah, bisa pulang siang hari, bisa
libur pas anak-anak juga libur, kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga dapat
terpenuhi. Guru juga merupakan profesi
yang mulia, mendidik anak-anak bangsa. Tapi sayang ya kalau harus pindah jurusan
di tengah-tengah kuliah, sayang uang, sayang waktu, sayang tenaga juga.
Kini, impian saya jadi guru mungkin akan terwujud, ajaran tahun 2013/2014 nanti,
saya sudah diterima di sekolah dekat rumah saya untuk mengajar sesuai dengan
jurusan yang saya geluti. Alhamdulillah.
![]() |
| Gambar diambil dari Google |
Dan tentu saja, kini setiap ada waktu senggang, saya pasti
mengajak kangdan (suami saya) untuk
berlibur, dan yeaaaahhh dia selalu setuju dengan tempat yang saya ajukan. Keliling
Indonesia dan keliling dunia? Why not!!!!! Tunggu kami!!!!!
Impian jangka pendek sekarang ini adalah ingin segera
mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah, ingin menjadi istri yang sempurna
bagi suami tercinta (meskipun sempurna hanya milik Allah SWT) dan ibu yang
hebat bagi anak-anaknya, ingin belajar menjadi wirausaha, ingin segera naik haji mumpung masih muda. Mudah-mudahan segera terwujud. Amiiin. Bismilaahirrahmaanirrahiim.
Senin, 17 Juni 2013
Pengalaman Pertama Bikin SIM
Bertahun-tahun pakai motor, saya tidak menggunakan SIM,
karena memang hanya digunakan di daerah, yang penting bisa, ya dipakailah motor,
apalagi jalanannya yang sunyi hingga tidak takut bertabrakan dengan motor
lainnya. Tapi ketika pindah ke Bandung, lain lagi masalahnya, jalanan yang rame
dan polisi yang bertebaran di mana-mana membuat saya ciut. Ketika dapat hadiah
ultah motor baru dari suami tercinta, saya memaksakan diri membuat SIM.
Pagi itu hari Senin, saya berangkat bareng suami ke Polres, dan wawww ternyata yang antri sudah banyak sekali. Karena tempat parkir di dalam sudah penuh, kami terpaksa parkir di luar. Dan ketika sedang parkir itulah, ada bapak-bapak yang datang menghampiri kami.
“Nenk, mau bikin SIM C ya?
Kalo mau cepet, bapak bisa bantu.
Ga mahal ko, Cuma se******* saja".
Suami yang memang punya acara lagi langsung saja menjawab,
“Kurangi dikit lah, itu terlalu mahal”.
Jawab si Bapa,” Kalo sekalian dengan SIM A nya bolehlah dikurangi. Ini sudah harga termurah lho, yang lain mana dapet segitu.”
Dan setelah adu tawar dengan si Bapa itu akhirnya terjadilah transaksi deal. Suami akhirnya juga membuat SIM A yang dari rumah sebelumnya tidak terpikirkan.
Saya merasa keberatan dengan keputusan suami,
“ Yah ko langsung oke aja, padahal Ibu pengen asli di test”.
Dia hanya jawab, “Kita liat aja nanti.”
Setelah lama ngantri, kami dipanggil berbarengan. Kami hanya disuruh mengisi biodata. Setelah itu kami ngantri lagi untuk difoto. Nah saat mengantri itulah saya mengobrol dengan orang yang duduk di sebelah saya.
“Mas bikin SIM apa?”.
“SIM C Mba, oya tadi mba pake jalan yang Bapak tua di tempat parkiran ya?”
“Ko tau?”
“Iya saya juga lewat dia”
“Oh”
“Saya terpaksa Mba ambil jalan ini”
“Ko?”
“Iya saya sudah cape bolak balik, saya sudah 3 kali ikut test, tapi tidak pernah lulus. Kemudian ada desas desus, kalo lewat test asli sampe berapa kali pun tak akan dilulusin. Saya aja udah abis uang berapa 3 kali ikut test. Makanya sekarang ambil jalan nembak ini.”
Saya hanya tersenyum simpul mendengarnya, dan ketika melirik ke arah suami, ia hanya mengangguk, karena ternyata dia juga dulu 2 kali gagal ikut test.
“Ayah cuma tidak ingin lama kita mengurus ini”, katanya dengan raut muka yang menyakinkan.
Saya pun hanya bisa menghela nafas.
Saya pun hanya bisa menghela nafas.
(Meski tidak puas, tapi kini SIM sudah di tangan)
Ketika saya ajak ngobrol orang lagi di ruang tunggu itu,
ternyata kebanyakan memang pake jalan ‘nembak’ itu. Saya jadi bertanya-tanya
sendiri dalam hati, ko bisa seperti ini ya, padahal di luar banyak
spanduk-spanduk yang melarang perbuatan itu. Memang sudah jadi rahasia umum,
tapi sampai kapan akan dibiarkan seperti ini. Kalo begini caranya, siapa pun
dapat dengan mudah mendapatkan SIM, asal ada uang.
Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika saya mengantar Adik membuat SIM di lain kota dengan saya. ketika masuk ke Polres, kami langsung didekati dengan Pak Polisi.
“Ada yang bisa Bapa Bantu?”
Adik saya menjawab, “mau bikin SIM C pa.”
“Oh, sini Bapa yang urusin, kamu tunggu saja di sini. Sini bayar se*****.”
Begitulah, oknum Polisi nya aja ga malu untuk terang-terangan
melakukan ini. Kita sebagai masyarakat, tentu saja dalam selintas, pasti menginginkan hal yang cepat beres.
Doa saya, Mudah-mudahan untuk ke depannya saya dan para pembaca tetap patuh pada aturan meskipun ada jalan yang lebih cepat. Semoga saja.
Salam,
Doa saya, Mudah-mudahan untuk ke depannya saya dan para pembaca tetap patuh pada aturan meskipun ada jalan yang lebih cepat. Semoga saja.
Salam,
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kinzihana's GA
Jumat, 31 Mei 2013
Ecpi + Smart modem, Teman Setia Saya!!!!
Kalau ditanya soal benda kesayangan,
saya pasti langsung jawab: “Si Ecpi”. Ecpi
ini merupakan notebook kedua saya. Notebook ini surprise dari suami tercinta 2
tahun silam. Tadinya notebook itu mau dia pake biar lebih praktis, tapi mungkin
dia kasihan melihat saya dan adik yang baru masuk kuliah gantian pake laptop,
hingga akhirnya laptop saya wariskan ke adik supaya dia lebih nyaman
belajarnya.
Tulisan ini "Diikutsertakan dalam event Giveaway Wedges, Buku, dan Kaos di www.argalitha.blogspot.com"
Hal yang lucu pernah terjadi
dengan si Ecpi ini, ketika saya sedang ngetik, tak sengaja menyentuh layarnya,
dan ternyata bereaksi!!! Oh My
God,,,,ini terjadi setelah 3 bulan saya pake,,,,ndesoo banget ya si gua :D, soalnya
suami gak pernah bilang kalau itu notebook touchscreen (ternyata si Ecpi ini
merupakan bonus kerjaan dari bosnya, so suami ga tau detail speknya, karena ga
beli sendiri) , dan saya pun tak pernah googling tentang notebook type itu. Well,
saya makin jatuh cinta deh sama teman setia saya ini karena berbagai kemudahan semakin
kudapatkan.
Ecpi tersayang
Si Ecpi membantu saya membereskan
tugas-tugas kuliah dan menyelesaikan skripsi setahun silam, meski kadang-kadang
dia nge-hang karena jarang diistrirahatkan. Ketika sedang menyusun skripsi pula
saya dinyatakan positif hamil, hingga Si Ecpi pun ikut menemani hari-hari
kehamilan saya, ketika saya harus di rumah terus dengan si jabang bayi, menemani saya ketika
menunggu suami pulang kerja, menemani saya ketika harus membantu menyelesaikan
pekerjaan suami, menemani saya meskipun hanya sekedar bermusik sambil
beres-beres rumah. Ketika mumet juga, saya bisa bermain game sepuasnya di si
Ecpi ini. Dengan kapasitas penyimpanannya yang lumayan gede, Saya bisa simpan
stock film yang banyak, bisa simpan foto-foto perjalanan hidup saya dan
dokumen-dokumen penting lainnya. Apalagi ketika Si Ecpi tersambung ke internet ,
banyak ilmu yang ku dapat, banyak hal-hal baru yang ku temukan. Saya bisa
berinteraksi dengan teman-teman meskipun berjauhan melalui jaringan sosmed.
Jika ada pertanyaan dari
teman-teman, bukannya sekarang sudah ada smartphone hingga lebih praktis kalau
dibawa kemana-mana? Saya dengan lantang akan menjawab : ”Saya merasa kurang
nyaman dan gak leluasa (mungkin karena layarnya yang kecil dan keterbatan-keterbatasan
lainnya) So, tas saya pasti akan selalu berat kalau keluar rumah, karena saya
pasti bawa si Ecpi. Apalagi baterainya itu lho, meskipun sudah bertahun-tahun,
tetap saja bersahabat, bisa bertahan kurang lebih 5 jam. Makin sayang,
sayang,,,dan sayang banget deeeeehhh.
Pernah suatu malam ketika rumah
saya dimasuki maling, hal yang paling pertama teringat tentu saja si Ecpi!!! Tapi
Alhamdulillah si Ecpi selamat meskipun laptop suami dan 3 handphone kami
berhasil digondol maling. Mungkin Tuhan
menakdirkan si Ecpi akan selalu menemani saya, menjadi teman setia saya hingga
dia tidak bisa dioperasikan lagi (mudah-mudahan dia tidak rusak hehehe).
Amiiiin.
Tulisan ini "Diikutsertakan dalam event Giveaway Wedges, Buku, dan Kaos di www.argalitha.blogspot.com"
Usia 23???? Banyak Hikmah!!!!!
Usia 23????
Semakin menyenangkan ketika usia kehamilan sudah menginjak usia 9 bulan, tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan si buah hati. Hampir tiap saat aku ajak dia berbicara, mengelus-ngelusnya, dan dia selalu memberikan respon dengan menendang atau menyikutku dengan gerakannya yang lincah. Aku selalu putarkan dia musik klasik, murrotal dan lain sebagainya. Aku merasa dia sangat aktif dan sehat (rutin periksa ke dokter).
Idaman persalinanku adalah homebirth dan gentlebirth. Meskipun suami melarang keras aku melahirkan di rumah, tetapi aku bersikeras hingga suami mengalah. Hari yang ku nantikan tiba, setelah 2 hari 2 malam berjuang dengan gelombang cinta yang menghantam, akhirnya si buah hati lahir. Dia hanya menangis sebentar, dan kemudian segera dilahiran ke rumah sakit karena dia kemasukan lendir-lendir sehingga sulit bernafas.
Usia 23 bagiku sangat spesial sekali, dimana banyak berkah
yang ku dapat. Di usia 23 tahun aku berhasil lulus tepat waktu dengan predikat
cumlaude. Satu-satunya yang lulus duluan di kelas, dan 9 orang dalam satu
angkatan. Setelah sebelumnya saya apatis untuk bisa lulus, karena waktuku
terbagi untuk mengurus suami dan anak (anak dari pernikahan pertama suami
saya). Dan yang lebih spesial adalah alhamdulillah aku diberi kepercayaan oleh
Allah SWT mengandung anak pertama, setelah kurang lebih 3 tahun menunggu (aku
menikah muda, ketika usia 20 tahun). Aku
merasa itu adalah kado terindah di ulang tahunku yang ke 23. Lengkap sudah
kebahagiaanku, apalagi ketika itu aku dan suami juga alhamdulillah diberi
rezeki untuk memperluas bangunan rumah mungil kami.
Wisuda, ketika hamil 2 bulan
Masa kehamilan adalah hal yang sangat LUAR BIASA. Hari-hari
kehamilan aku lewati dengan sukacita, meski banyak perubahan dalam kebiasaan
dan tingkah laku yang terjadi. Di trimester pertama aku sempat tidak
bangun-bagun dari tempat tidur. Aku juga tidak kuat untuk memasak buat anggota
keluarga di rumah, karena baunya itu lho, langsung mual dan muntah. Tetapi
alhmdulillah, suami, mertua, dan adik ipar sangat mengerti kondisiku, hingga
aku merasa diperlakukan bak ratu (huekkks ngarep :D). Kondisiku mulai normal di
trimester kedua. Aku begitu menikmati hari-hari sebagai bumil dan berusaha
semaksimal mungkin untuk menjaga dan memberikan yang terbaik untuk jabang bayi.
Semakin menyenangkan ketika usia kehamilan sudah menginjak usia 9 bulan, tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan si buah hati. Hampir tiap saat aku ajak dia berbicara, mengelus-ngelusnya, dan dia selalu memberikan respon dengan menendang atau menyikutku dengan gerakannya yang lincah. Aku selalu putarkan dia musik klasik, murrotal dan lain sebagainya. Aku merasa dia sangat aktif dan sehat (rutin periksa ke dokter).
My first pregnancy, 36w
Idaman persalinanku adalah homebirth dan gentlebirth. Meskipun suami melarang keras aku melahirkan di rumah, tetapi aku bersikeras hingga suami mengalah. Hari yang ku nantikan tiba, setelah 2 hari 2 malam berjuang dengan gelombang cinta yang menghantam, akhirnya si buah hati lahir. Dia hanya menangis sebentar, dan kemudian segera dilahiran ke rumah sakit karena dia kemasukan lendir-lendir sehingga sulit bernafas.
Aku hanya pasrah ketika dinyatakan bayiku meninggal. Sulit
memang menerima kenyataan, bayi yang telah ku kandung selama 9 bulan
meninggalkanku tanpa sempat aku menggendong dan menciumnya. Aku telah dipercaya
untuk mengandung dan melahirkan, tapi aku belum dipercaya untuk membesarkannya.
Tapi itulah takdir tuhan, aku yakin itu yang terbaik.
My first son, Eldan Alvaro Rafassya (Alm.)
Banyak hikmah yang ku ambil dari kejadian ini. Aku jadi
lebih termotivasi untuk lebih dekat kepada Allah dan berusaha untuk tetap
konsisten. Dan aku merasa ini teguran dari-Nya karena aku terlalu percaya diri
segala apa yang aku rencanakan selalu sesuai, padahal tanpa kehendak-Nya, semua
itu tak akan pernah terjadi. Usia 23 mendidik saya untuk lebih dewasa dalam
menyikapi setiap permasalahan yang ada, dan yang lebih penting adalah perlunya TAWAKAL
dan BERSYUKUR!!!! Tawakal dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang
diinginkan dan bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan. Bersyukurlah
more,,,more,,,and more,,,yakin Allah akan melipatgandakannya!!!!.
So, buat mba Ayu yang mau ulang tahun, semoga target dan harapan-harapan
di usia 23 tercapai, sukses di pekerjaan, sukses di bisnisnya, dan sukses dalam
mendapatkan jodohnya. Teruslah berkarya (aku salut di usia yang masih muda
sudah banyak berkarya dan berbisnis, sedangkan aku hanya ibu rumah tangga saja
hehehe).
Langganan:
Postingan (Atom)














